VistaTainment
Beranda » Berita » VistaTainment » Gerakkan Pengarsipan Perfilman Sinematek Indonesia, Upaya Pelestarian Budaya Bangsa

Gerakkan Pengarsipan Perfilman Sinematek Indonesia, Upaya Pelestarian Budaya Bangsa

Sonny Pudjisasono, Ketua Yayasan Pusat Perfilman H.Usmar Ismail (YPPHUI) (Foto - Didang Prajasasmita)
Sonny Pudjisasono, Ketua Yayasan Pusat Perfilman H.Usmar Ismail (YPPHUI) (Foto - Didang Prajasasmita)

JAKARTA, VISTANEWS.ID –  Akhir-akhir ini sedang berlangsung apa yang dinamakan Gerakan Pengarsipan Perfilman dalam koridor Sinematek Indonesia dengan pengelola Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail.

Sonny Pudjisasono pemrakarsa Gerakan Pengarsipan Perfilman Sinematek Indonesia menjelaskan, gerakkan ini adalah merupakan pemajuan kebudayaan Pengarsipan Perfilman.

“Gerakkan ini sebagai upaya peenyelamatan perkembangan dan kemajuan perfilman Indonesia, dalam masa tertentu. Sehingga tercatat dalam pengarsipan sebuah film itu diproduksi dalam jaman dan sikon politik seperti apa. Ini bisa studi dan kajian. Dan film merupakan ekspresi budaya bangsa,” jelas Sonny Pudjisasono, Ketua Yayasan Pusat Perfilman H.Usmar Ismail (YPPHUI) di Jakarta.

Lebih jauh Sonny mengatakan, perkembangan perfilman di Indonesia bukan hanya sekadar industri kreatif, tetapi juga merupakan cerminan dari identitas dan ekspresi budaya bangsa. 

“Film-film Indonesia telah menjadi medium sarana penting dalam merepresentasikan nilai-nilai, tradisi, dan perubahan peradaban sejarah bangsa,” beber Sonny.

El Rumi dan Syifa Hadju Sah Jadi Suami Istri

Namun, seperti halnya warisan budaya lainnya, film-film ini membutuhkan upaya pelestarian yang serius agar tidak hilang begitu saja seiring waktu.

Di sinilah pentingnya gerakan Sinematek Indonesia pengarsipan perfilman sebagai upaya penyelamatan terhadap perkembangan perfilman Indonesia.

Mengapa Sinematek Indonesia Pengarsipan Perfilman Penting?

Film-film Indonesia merupakan aset budaya yang sangat berharga. Mereka tidak hanya menghibur, tetapi juga mendokumentasikan perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang terjadi di Indonesia sepanjang waktu. 

Film-film klasik seperti “Darah dan Do’a” (1950), “Tiga Dara” (1956), dan “Lewat Djam Malam” (1954), dan Kawat Berduri adalah contoh karya yang merefleksikan semangat pada zamannya dan aspirasi masyarakat pada masanya.

Dul Jaelani Rilis Single Usia 25, Aku Baik Baik Saja (Katanya)

Namun, banyak film-film ini yang kini berada dalam kondisi kurang rawat, rusak atau bahkan hilang karena kurangnya kepedulian perawatan dan pengarsipan yang memadai.

Tantangan dalam Sinematek Indonesia Pengarsipan Perfilman

Sonny juga menjelaskan, tantangan utama dalam Sinematek Indonesia YPPHUI terhadap pengarsipan koleksi sinematografi perfilman di Indonesia adalah keterbatasan infrastruktur, sumber daya manusia, dan diperlukan pendanaan dari unsur  pemerintah, khususnya Kementerian Kebudayaan, Direktorat Perfilman, Musik, dan Seni.

Banyak film-film lama yang disimpan dalam kondisi yang tidak memenuhi standar penyimpanan yang ideal, sehingga berisiko mengalami kerusakan atau kemusnahan. 

Selain itu, kesadaran peduli akan pentingnya pelestarian film sebagai bagian dari warisan budaya bangsa masih kurang perlu ditingkatkan.

Brisia Jodie Rilis Sisa Janji, Jadi Soundtrack Serial Istri Paruh Waktu

Upaya Sinematek Indonesia yayasan pusat perfilman h.usmar ismail terhadap Pengarsipan dan Pelestarian

Berbagai upaya telah dilakukan  untuk melestarikan film-film Indonesia, seperti pendirian Sinematek Indonesia yayasan pusat perfilman h.usmar Ismail (YPPHUI) dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Lembaga-lembaga ini berperan penting dalam mengumpulkan, merawat, dan melestarikan film-film nasional. 

Selain itu, ada juga komunitas film dan pegiat perfilman yang secara aktif terlibat dalam restorasi dan distribusi film-film klasik.

Teknologi digital juga membuka peluang baru dalam pengarsipan perfilman. Dengan digitalisasi, film-film dapat disimpan dalam format yang lebih tahan lama dan dapat diakses secara luas oleh masyarakat.

Proyek-proyek restorasi film klasik yang dilakukan oleh berbagai lembaga dan komunitas film adalah contoh konkret dari upaya pelestarian ini.

Film Sebagai Ekspresi Budaya Bangsa

Film bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga merupakan pemajuan kebudayaan sarana penting dalam mengekspresikan identitas dan budaya bangsa. 

Melalui film, kita dapat memahami nilai-nilai, tradisi, dan sejarah bangsa dari berbagai perspektif. 

Dengan meningkatkan kesadaran peduli akan pentingnya pelestarian film, kita dapat memastikan bahwa karya-karya perfilman Indonesia tetap hidup dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. 

Oleh karenanya dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga perfilman, maupun masyarakat, sangat diperlukan dalam upaya ini. Bersama-sama melestarikan film-film Indonesia sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya bangsa. (Red/KD)

Bagikan Artikel