JAKARTA, VISTA.CO.ID – Ramadan dan Lebaran tahun ini, menjadi pengalaman berbeda bagi Rayhan Cornelis Vandennoort. Untuk kedua kalinya, ia menjalani momen spesial itu di Belanda, negara asal sang ayah, setelah memutuskan pindah ke sana demi melanjutkan pendidikan.
Menurut aktor cilik yang kini beranjak remaja itu, suasana Lebaran di Belanda terasa kontras dibandingkan dengan di Indonesia.
Aktor kelahiran 9 Desember 2011 yang mencuat lewat film horor “Bayi Ajaib” ini, mengaku merindukan nuansa Ramadan yang biasanya begitu hidup di tanah air, mulai dari suara azan hingga tradisi membangunkan sahur.
“Di sini nggak ada azan, nggak ada yang bangunin sahur dari rumah ke rumah, nggak ada takbir keliling juga,” ujar Rayhan.

Kondisi lingkungan tempat tinggalnya yang mayoritas bukan Muslim turut memengaruhi suasana ibadah. Ia menyebut tidak ada masjid di dekat rumah, sehingga atmosfer Ramadan terasa lebih sepi.
“Sangat beda dengan di Indonesia. Karena lingkungan rumah tidak ada masjid yang dekat. Jadi rindu yang bangunin sahur, azan, jadi kurang suasana Ramadan-nya,” katanya.
Perbedaan juga terasa saat Hari Raya tiba. Untuk melaksanakan salat Idulfitri, Rayhan harus menempuh perjalanan cukup jauh menuju Amsterdam.
“Harus jauh ke Amsterdam buat solat Eid. Harus naik mobil jauh, 1,5 jam demi pengen solat eid. Parkir mahal dan susah kalau di Belanda,” ungkapnya.
Meski demikian, pengalaman salat Id tetap memberikan kesan tersendiri. Ia bertemu dengan komunitas Muslim dari berbagai latar belakang, terutama dari Turki dan Maroko, yang memang mendominasi populasi Muslim di Belanda.

Dalam hal tradisi, Rayhan menyebut perayaan Lebaran di Belanda sangat bergantung pada latar belakang keluarga masing-masing. Keluarga Indonesia biasanya tetap mempertahankan tradisi khas Tanah Air dengan berkumpul bersama sesama diaspora.
“Tradisi di sini tergantung masing-masing keluarga. Misal keluarga Indonesia biasanya ngumpul juga sama keluarga atau kenalan dari Indonesia. Kalau Muslim di Belanda biasanya tradisi orang Turki atau Maroko,” jelasnya.
Ia pun tetap menjalankan tradisi Indonesia bersama keluarganya. Sang ibu bahkan aktif dalam komunitas Indonesian Living in Holland, yang menjadi wadah berkumpulnya warga Indonesia di Belanda.
Dari sisi kuliner, Rayhan tidak kehilangan cita rasa Lebaran khas Indonesia. Ia menyebut hidangan seperti opor ayam, rendang, hingga lontong sayur tetap hadir di meja makan keluarga.
“Sama seperti di Indonesia, karena mama selalu masak masakan Indonesia di rumah,” ujarnya.

Hal ini semakin terasa saat ia menghadiri acara halal bihalal di rumah rekan ibunya. Dalam acara tersebut, berbagai hidangan khas Indonesia tersaji lengkap, mulai dari bakso, tumpeng, hingga aneka kue dan camilan.
“Dengan adanya lontong sayur, opor ayam, dan rendang yang khas, suasana Lebaran jadi terasa semakin lengkap. Acaranya hangat dan bikin berasa seperti merayakan Lebaran di Indonesia, walaupun sedang di negara orang,” tutur Rayhan.
Namun, ada satu tradisi yang menurutnya paling berbeda, yakni kebiasaan bersilaturahmi ke tetangga. Di Belanda, hal tersebut sulit dilakukan karena jarak antar rumah yang berjauhan dan perbedaan latar belakang agama.
“Bedanya nggak ada bertandang ke tetangga dan harus jauh naik mobil kalau mau berkunjung. Karena rumahnya biasanya agak jauh dan tetangga di sini nggak semua Muslim dan mayoritas Kristen,” jelasnya.
Selain itu, perbedaan juga dirasakan saat menjalani ibadah puasa. Rayhan mengungkapkan durasi puasa di Belanda sangat bergantung pada musim.

“Kalau puasa pas winter sih enak, durasi puasa nggak terlalu panjang, cuma dingin doang. Tapi kalau puasa pas summer, wah lama banget! Kadang maghrib baru jam 10 atau setengah 11 malam,” katanya.
Ia bahkan harus berpuasa hingga lebih dari 18 jam saat musim panas.
“Bayangin aja sahur dari jam 4 lalu nggak makan nggak minum sampai jam setengah 11 malam. Haduh, 18 jam lebih puasa,” ujarnya.
Meski menghadapi berbagai perbedaan, Rayhan tetap menemukan cara untuk menjaga makna Lebaran. Ia mengaku momen berkumpul bersama keluarga dan komunitas menjadi hal yang paling berharga.
“Merindukan Lebaran di Indonesia. Kangen suasana Lebaran rame, berkunjung ke rumah teman, tetangga. Walau di sini juga ada perkumpulan Indonesian Living in Holland, tapi beda saja rasanya dengan Lebaran di kampung,” pungkas Rayhan Cornelis Vandennoort. (Ign)

