JAKARTA, VISTANEWS.ID – Mantan pesepakbola dunia Eric Cantona, turut prihatin atas peristiwa genosida yang dialami warga Palestina di Gaza yang dengan brutal dilakukan oleh tentara Israel.
Legenda Manchester United asal Perancis itu, meminta FIFA, UEFA, dan badan olahraga dunia lainnya agar memberlakukan boikot terhadap timnas sepak bola Israel.
Eric Cantona kelahiran Marseille, Perancis 24 Mei 1966 itu, menghimbau seluruh badan olahraga dunia harus berempati terhadap rakyat Palestina di Gaza dengan cara menghukum Israel, dikucilkan dari gelanggang olahraga internasional.
“Empat hari setelah Rusia memulai perang di Ukraina FIFA dan UEFA membekukan timnas sepakbola Rusia, untuk tidak disertakan dalam event sepakbola internasional. Sudah saatnya asosiasi sepakbola dunia dan Eropa itu untuk membekukan timnas sepakbola Israel dari seluruh kegiatan sepakbola di mana pun di dunia,” teriak Eric Cantona
Dia juga meminta hapuskan semua hak keistimewaan yang dinikmati timnas sepak bola Israel.
“Saya bermain sepak bola untuk Prancis dan Manchester United, saya tahu bahwa sepakbola internasional lebih dari sekadar olahraga. Sepak bola adalah budaya. Sepak bola adalah politik. Sepak bola adalah kekuatan yang lunak,” tutur Eric Cantona yang berdarah Italia dan Spanyol itu.
Selanjutnya Cantona mengatakan, kini sudah memasuki 716 hari dari apa yang disebut Amnesty Internasional sebagai genosida. Namun Israel masih terus diizinkan untuk berpartisipasi. Mengapa ada dobel standar FIFA dan UEFA harus menangguhkan partisipasi timnas Israel sekarang juga.
“Klub klub di mana pun harus menolak untuk memainkan simpanse Israel. Para pemain saat ini di mana pun harus menolak untuk bermain melawan tim tim Israel,” tegas Cantona, yang terkenal temperamen di lapangan bola.
Event olahraga ternyata tidak sepenuhnya membangun kejujuran, kesehatan, dan digniti. Tangan-tangan politik mengotori dengan memboikot pertandingan olahraga. Namun, tidak diberlakukan secara adil. Rusia diboikot, tetapi Israel dibiarkan.
Olimpiade Musim Panas 1980 di Moskow memang diwarnai boikot besar-besaran oleh sekitar 60 negara, termasuk Amerika Serikat dan Indonesia, sebagai protes terhadap invasi Uni Soviet ke Afghanistan.
Boikot ini menjadi yang terbesar dalam sejarah Olimpiade, menyebabkan penurunan jumlah peserta menjadi 80 negara saja.
Akibat boikot, pertandingan mengalami penurunan kualitas kompetisi dan banyak atlet kehilangan kesempatan berkompetisi.
Saat Amerika Serikat (AS) terlibat dalam Perang Vietnam, pemerintah mewajibkan semua pemuda, termasuk atlet, untuk ikut wajib militer.
Tapi petinju Mohammad Ali menolak keras dengan alasan perang itu tidak adil, terutama bagi orang kulit hitam yang masih mengalami diskriminasi di negaranya sendiri.
“Mereka enggak pernah manggil saya ‘n***er’,” kata Ali saat ditanya kenapa dia enggan bertempur. Akibat sikapnya, Ali kehilangan gelar juara dunia, izin bertandingnya dicabut, dan terancam dipenjara.
Namun, aksinya kemudian dihormati sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan rasial. (Red/KD)

