VistaNews
Beranda » Berita » VistaNews » YPPHUI Lakukan Penandatanganan Kesepakatan Gerakan Penyelamatan Pengarsipan Film Nasional

YPPHUI Lakukan Penandatanganan Kesepakatan Gerakan Penyelamatan Pengarsipan Film Nasional

kesepahaman Gerakan Penyelamatan Pengarsipan Film Nasional di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta, Kamis (16/4/2026). (Foto - Muller)
kesepahaman Gerakan Penyelamatan Pengarsipan Film Nasional di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta, Kamis (16/4/2026). (Foto - Muller)

JAKARTA, VISTA.CO.ID – Upaya menjaga warisan budaya bangsa melalui film semakin diperkuat dengan dilaksanakannya penandatanganan nota kesepahaman Gerakan Penyelamatan Pengarsipan Film Nasional. 

Kegiatan ini berlangsung di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta, Kamis (16/4/2026), dan menjadi momentum penting kolaborasi lintas lembaga dalam menjaga memori kolektif bangsa.

Dalam sambutan pembuka, Ketua YPPHUI, Sonny Pudjisasono, menegaskan bahwa film tidak boleh lagi dipandang hanya sebagai hiburan semata, melainkan sebagai bagian penting dari artefak budaya.

“Budaya tidak boleh dilupakan. Salah satu aspek penting adalah pengarsipan, karena di situlah ingatan kolektif bangsa disimpan. Ada dua hal yang perlu kita pahami bersama, yakni aspek hukum dan kearsipan. Keduanya sangat penting untuk menjaga dan mengembalikan memori bangsa kepada masyarakat,” ujarnya.

Sonny juga menambahkan bahwa gerakan ini bukan sekadar kewajiban, tetapi juga menjadi ruang ekspresi bagi para kreator.

Kapolres Jaksel dan Kapolsek Pesanggrahan Bersama Kapolsek Jajaran Gandeng Ojek Online Gelar Patroli di Tiga Titik Ini

“Film adalah medium suara masyarakat tempat mereka bercerita, menyampaikan harapan, dan merekam perjalanan bangsa,” tambahnya.

kesepahaman Gerakan Penyelamatan Pengarsipan Film Nasional di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta, Kamis (16/4/2026). (Foto - Muller)
kesepahaman Gerakan Penyelamatan Pengarsipan Film Nasional di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta, Kamis (16/4/2026). (Foto – Muller)

Sementara itu, Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Irini Dewi Wanti, S.S., M.SP., menekankan pentingnya penyelamatan film sebagai bagian dari jejak sejarah nasional.

“Pengarsipan dan penyelamatan film sangat penting untuk menjaga sejarah dan kebudayaan kita. Film adalah alat penjaga kebudayaan untuk masa depan,” jelasnya.

Pandangan internasional turut memperkaya diskusi melalui kehadiran Dr. Uri Tadmor dari De Gruyter Brill, Belanda, serta Mr. Orlando Bassi dari Restorasi Film Lab DFD Movie Studio Bali. 

Keduanya menyoroti pentingnya digitalisasi sekaligus pelestarian format analog dalam proses restorasi film.

Dampak Konflik Timur Tengah, Ini Strategi Kemenpar Jaga Target Pariwisata 2026

“Digitalisasi memang penting, tetapi prosesnya sangat cepat. Sementara itu, pelestarian film analog tetap diperlukan agar kualitas dan keaslian karya dapat terjaga,” ungkap Uri Tadmor.

Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI), Fauzan Zidni, menegaskan bahwa pengarsipan film adalah tanggung jawab bersama.

“Ini adalah kerja kolektif. Kolaborasi antara PPHUI, BPI, dan Kementerian Kebudayaan menjadi kunci agar gerakan ini berjalan maksimal,” katanya.

Acara ini juga dihadiri oleh Sekretaris YPPHUI Heidy Hemia, Kepala Sinematek Indonesia Farry Hanief, serta Kepala Perpustakaan Perfilman Maya Sutanti.

Kegiatan ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman sebagai simbol dimulainya Gerakan Penyelamatan Pengarsipan Film Nasional, yang diharapkan mampu menjadi tonggak baru dalam upaya pelestarian film Indonesia sebagai identitas budaya bangsa. (Ign)

Indonesia Perkuat Kerja Sama Pariwisata dengan Jepang, Dukung Strategi Penguatan Pasar Asia Timur

Bagikan Artikel