Oleh: Herman Wijaya
Ada satu pekerjaan unik di Singapura, yakni merawat bayi dan perempuan yang baru melahirkan. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan sembarang orang, karena memerlukan keahlian khusus.
Sang perawat bukan saja harus pandai menangani anak yang baru lahir, tetapi juga melayani ibu dari si bayi.
Selama 2 minggu, bayi yang baru dilahirkan tidur bersamanya. Dia akan terjaga begitu sang bayi bangun, dan segera menyiapkan ASI dari ibu si bayi yang sudah ditampung di kantong khusus.
Intinya selama 2 minggu sang bayi berada di bawah pengawasannya. Tugas sang pengasuh mulai dari menyiapkan susu, memandikan bayi, membuat sang bayi bersendawa setelah minum susu, juga mencuci pakaian sang bayi, termasuk menangani sang bayi buang air. Ibu si bayi sama sekali tidak dibiarkan mengurus anak.
Perawatan terhadap ibu si bayi juga berada di tangannya. Pengasuh itu juga akan memasak makanan untuk sang ibu yang baru melahirkan, dengan menu yang khusus dibuatnya.
Kadang dia memasak satu ekor ayam dengan rempah-rempah yang harus dihabiskan dalam sekali makan oleh perempuan yang baru melahirkan.
Ayah kandung sang pengasuh bayi, yang penulis temui tengah bekerja pada sebuah keluarga di Tampines, adalah seorang sinshe.
Ketika ayahnya masih ada, May Fong, sang pengasuh bayi tersebut sering membantu ayahnya meracik obat-obatan tradisional Cina.
Setelah 2 minggu, barulah sang ibu boleh menggendong dan menyusui bayinya. Tetapi bayinya masih tidur bersama sang pengasuh.
May Fong (63 tahun) adalah warganegara Malaysia. Tetapi ia sering dipakai jasanya di Singapura. Nama May Fong dikenal dari mulut ke mulut dalam sebuah keluarga besar di Singapura. Bila ada anggota keluarga tersebut melahirkan, May Fong dipanggil.
Untuk keahliannya itu, May Fong menerima bayaran cukup besar: 1000 Singapore dolar per minggu. Jika kurs dolar Singapura Rp.12.000, berarti memperoleh bayaran Rp12 juta per minggu.
Belum lama ini, ketika melayani sebuah keluarga muda di Tampines, May Fong bekerja selama 5 minggu. Jadi bayaran yang diterimanya sebanyak 5.000 S$. Lebih dari Rp60 juta!
May Fong sebenarnya diminta untuk memperpanjang masa kerjanya seminggu lagi. Tetapi nenek bercucu 3 ini — salah satu anaknya juga tinggal dan bekerja di Singapura — tidak bersedia.
“Bulan depan saya sudah harus berangkat liburan ke Cina,” katanya.
May Fong biasanya hanya menangani satu keluarga yang melahirkan setiap tahun, karena dia juga harus mengurus cucunya di Malaysia.
Tetapi setiap habis bekerja, dia pergi liburan ke luar negeri. Dia mengaku pernah menghadiri acara Waisak di Candi Borobudur, beberapa tahun lalu.
Bagi orang Indonesia, demi menyambut anjuran Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Abdul Kadir Karding dan Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno agar orang Indonesia bekerja di luar negeri untuk mengatasi pengangguran, profesi seperti yang dijalani May Fong patut dipelajari.
Gajinya sangat menggiurkan, dibanding hanya menjadi TKW yang menjadi asisten rumah tangga.
Pejabat juga sebaiknya jangan asal ngomong. Didiklah masyarakat dengan baik, agar mendapat pekerjaan yang lebih baik dari sekedar menjadi ART atau pekerja kasar lainnya. (Red/***)

