VistaTravel
Beranda » Berita » VistaTravel » Ini Dia Sejoli di Pasar Boplo

Ini Dia Sejoli di Pasar Boplo

Warung kopi giling milik Koh Yi Lun di Jl. Srikaya, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. (Foto - Herman Wijaya)
Warung kopi giling milik Koh Yi Lun di Jl. Srikaya, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. (Foto - Herman Wijaya)

Oleh: Herman Wijaya 

Ada dua tempat yang selalu saya kunjungi bila datang ke Gondangdia, Jakarta Pusat, setidaknya sebulan sekali. Yang pertama adalah warung kopi giling milik Koh Yi Lun dan Roti Lauw. Keduanya terletak di Jl. Srikaya, persis di sebelah kiri Stasiun Gondangdia dari arah Manggarai, di sebelah kiri dan kanan depan Pasar Boplo. 

Dua-duanya merupakan pedagang lama di Boplo. Yi Lun mengaku meneruskan dagangan orangtuanya, yang sudah berdagang di Boplo sejak tahun 1932. 

Sedangkan Roti Lauw telah berdiri sekitar tahun 1940. Pemilik sekaligus yang memproduksi roti ini adalah Lauw Tjoan To. Bahkan pada masa awal pendiriannya, pemiliknya sudah menggunakan gerobak roti untuk menjajakannya. 

Kopi giling Yi Lun dan Roti Lauw ibarat dua sejoli yang tak terpisahkan, untuk dinikmati saat ngopi di pagi atau sore hari. Saya biasa memesan kopi campuran arabika dan robusta dengan komposisi 50 : 50 persen. Harganya terjangkau, hanya Rp.54.000 / 200 gram. Cukup untuk sebulan, bila dinikmati sendiri. 

Azana Boutique Hotel Hadirkan Konsep Young & Trendy Wellness Boutique Pertama di Kota Solo

Selain kedua toko makanan dan minuman bersejarah itu, di kawasan Gondangdia juga terdapat dua Gedung yang benar-benar bersejarah. 

Toko Roti Lauw di Jl. Srikaya, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. (Foto - Herman Wijaya)
Toko Roti Lauw di Jl. Srikaya, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. (Foto – Herman Wijaya)

Yang pertama adalah Masjid Cut Mutiah. Bangunan masjid ini dulunya adalah  kantor biro arsitek (sekaligus pengembang) N.V. (Naamloze vennootschap, atau Perseroan terbatas) Bouwploeg,  Pieter Adriaan Jacobus Moojen (1879 – 1955) yang membangun wilayah  Gondangdia di Menteng. Kata Bouwploeg itulah yang kemudian disebut Boplo orang Betawi. 

Bangunan kedua adalah restoran Tugu Kunstkring Paleis yang terletak di Jl. Teuku Umar 1, Menteng, Jakarta Pusat. Restoran tersebut dulunya dibangun sekitar tahun 1913. Bangunan itu dirancang oleh arsitek Pieter Adriaan Jacobus Moojen atau PAJ Moojen yang juga merancang kawasan Menteng. 

Pada awalnya, bangunan ini bernama Bataviasche Kunstkring atau tempat perkumpulan balai ikatan seni. Sesuai namanya, gedung tersebut awalnya merupakan galeri seni yang kerap menampilkan karya-karya dari pelukis terkenal, seperti Vincent van Gogh, Paul Gauguin, hingga Pablo Picasso. 

Gedung dengan gaya arsitektur Nieuwe Kunst ini menjadi galeri seni hingga 1942 sebelum akhirnya beralihfungsi menjadi Majelis Islam A’la Indonesia. Setelah kemerdekaan pada 1945, gedung itu beralihfungsi menjadi kantor Imigrasi Jakarta Pusat hingga 1997.

Hotel Grand Maya by ARTOTEL Hadir di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Pada 1997, gedung tersebut dijual kepada pihak swasta namun dibiarkan terbengkalai bahkan sempat dijarah oleh pencuri. Semua daun jendela dan pintu dicuri, rangka jendela dan tangga dicopot lalu dibawa ke pasar gelap. 

Baru pada 2003, atas perintah gubernur saat itu, Sutiyoso, pemerintah membeli kembali bangunan itu. Fasad bangunan dipugar secara bertahap. Banyak elemen struktural dan dekoratif bangunan diganti secara acak, sementara bagian yang dijarah tetap hilang. 

Setelah cukup lama kosong, bangunan tersebut sempat menjadi Buddha Bar yang menjadi kontroversi pada 2007 silam. 

Setelah itu, bangunan ini diambil alih oleh Tugu Hotels & Restaurant Group dan mengubahnya menjadi restoran Tugu Kunstkring Paleis pada 2013. Bangunan tersebut kemudian ditetapkan sebagai cagar budaya melalui SK Gubernur Jakarta Nomor 475/1993. (Red/***)

Resorts World Genting Bidik Pasar Indonesia, Jalin Kemitraan Strategis Demi Dukung Visit Malaysia 2026
Bagikan Artikel