JAKARTA, VISTANEWS.ID – Kegiatan minggu kedua Bulan Indonesia 2026 di Hamburg, Jerman, Jumat (15/5) dan Sabtu (16/5) diisi workshop membuat kue Klepon serta belajar bahasa Indonesia untuk persiapan liburan ke Indonesia. Selain tema kuliner dan wisata ditampilkan juga beberapa tema budaya yang diwakilkan dari daerah Cirebon dan Bali.
Obrolan tentang kota Cirebon serta kekhasannya berlanjut dengan workshop tentang cara menggunakan sarung serta kain secara praktis. Hal ini bukan saja berguna bagi warga Jerman yang tak mengenal budaya berkain atau bersarung, melainkan juga bagi diaspora Indonesia.
Sementara tentang Bali, pengunjung mendapatkan informasi tentang konsep Catur Sanak sebagai konsep dasar orang Bali atau penganut Hindu Bali. Kegiatan yang dipandu oleh Dewa Ayu Mas Ismayani mewakili NBB (Nyama Braya Bali) ini dihadiri oleh Diaspora Indonesia di Hamburg dan warga setempat, kegiatan diakhiri dengan meditasi serta silaturahmi.
Pada hari itu juga digelar aktivitas kreatif untuk anak-anak. Organisasi APPBIPA Jerman, Afiliasi Pegiat dan Pengajar BIPA di Jerman, spesial mendatangkan Etty Prihantini yang dikenal dengan “Wortschatz Book Club“ untuk membaca bersama buku anak-anak.

Buku-buku dalam bahasa Indonesia yang menarik bukan saja untuk dibacakan tetapi juga disajikan dengan kegiatan lainnya, seperti mewarnai batik, berhasta karya, termasuk dengan para orang tua yang hadir.
Acara hangat lainnya, adalah jumpa informatif yang sangat cocok diadakan di Matahari Hairstyaling, yaitu presentasi dari Dr. Ratna Kancana-Wolfram, perempuan ahli kimia, diaspora Indonesia yang bekerja di Universitas Leipzig.
Dalam presentasinya diulas tentang “Keratin“ serta kimia praktis terhubung dengan rambut. Diskusi santai ini menjadi lengkap dengan informasi dari praktisi bidang kimia serta pemaparan dari Ernina Schahinger, pemilik Matahari Hairstyling.

Aktivitas lain di Bulan Indonesia adalah aksi para diaspora muda yang tergabung dalam tim “Festival Jam Karet“ yang menggelar acara “Flohmarkt“ dalam rangka pengumpulan dana festival yang akan diselenggarakan pada bulan September tahun ini.
Aktivitas terakhir yang sangat spesial dilaksanakan di Bulan Indonesia adalah berhari mingguan dengan “Walking Tour“ yang mengajak mereka yang mengenal jejak Indonesia di kota tua Hamburg. Acara ini dipandu oleh Wira Atmaja, mahasiswa Universitas Hamburg yang meneliti tema sejarah Indonesia.
Dyah Narang-Huth, CEO IKAT Agentur serta Presiden DIG Hamburg e.V. mengungkapkan kembali tentang perlunya kegiatan Bulan Indonesia yang diorganisir tiap tahunnya, di mana diaspora Indonesia dan masyarakat Jerman merasakan kehadiran Indonesia di tengah keseharian mereka selama sebulan penuh.
Konsep penyelenggaraan “Bulan Indonesia“ bisa dinamai “Kulturladen“ atau “Toko Budaya“. Jika diumpamakan sebagai sebuah toko, etalase Bulan Budaya Indonesia selama 30 hari bisa dilihat dengan berbagai aktivitas budaya, jumpa informatif, pameran serta workshop-workshop. Hal-hal positif yang akan lekat dalam ingatan warga setempat, bahwa ada “Wajah Indonesia“ di wilayah tinggal mereka selama sebulan. (*/May)

