JAKARTA, VISTANEWS.ID – Film Indonesia sesungguhnya sangat diminati oleh masyarakat Indonesia. Berdasarkan data penonton yang ada, tidak kurang 80 juta warga Indonesia di tahun 2024 menonton film Indonesia.
Pengalaman Sonny Pujisasono, produser dan penggiat perfilman, menyodorkan cerita begitu antusiasnya masyarakat bila diputar film Indonesia.
“Puluhan tahun saya di Persatuan Film Keliling Indonesia (Perfiki), setiap kali diputar di acara acara hajatan dan resepsi, penontonnya selalu membludak,” kata Sonny Pujisasono, ditemui di kantornya Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu.
Berangkat dari pengalaman itu, Sonny membangun bioskop di 12 Kecamatan, di Kabupaten Tanah Tidung Provinsi Kalimantan Utara.
“Sudah berjalan dua tahun ini saya menggunakan gedung Serba Guna yang ada di setiap kecamatan itu. Alhamdulillah setiap akhir pekannya selalu dipenuhi penonton,” jelas Sonny.
Bioskop hanya dibuka pada akhir pekan Sabtu dan Minggu, dengan 3 jadwal kali waktu tayang setiap harinya, sore hingga malam hari. Film-film yang diputar sementara ini dari film televisi (FTV) yang pernah tayang di SCTV. Harga tiketnya Rp10 ribu.
“Film-film dari tayangan Sinema Indonesia produksi rumah produksinya Deddy Mizwar yang pernah tayang. Selain bagus ceritanya mengangkat kearifan lokal budaya. Seperti judul Ulos untuk Ayah,” papar Sonny, kearifan lokal itu sebagai pagar budaya bangsa tidak terpengaruh dengan budaya dari luar.
Yang dilihat oleh Sonny, dalam kegiatan pemutaran film di pelosok ini, bukan semata mata menjaga budaya. Dari adanya kegiatan putar film masyarakat juga mendapat hiburan film berkualitas.
“Roda ekonomi juga semakin berputar, khususnya UMKM. Pedagang jajanan kena imbasnya. Terkadang ada yang buka booth cicilan kredit motor, di samping ada parkir dan anak anak muda di sana yang bekerja di bioskop itu,” kata Sonny, yang akan segera membuka bioskop di pelosok Kalimantan dan Papua. (Red/KD)

