VistaEdu
Beranda » Berita » VistaEdu » Genovator 2025, Wujud Nyata Siswa SOPJR Sebagai Agent of Change Lingkungan

Genovator 2025, Wujud Nyata Siswa SOPJR Sebagai Agent of Change Lingkungan

Para siswa Sekolah Olahraga Pembangunan Jaya Raya (SOPJR) saat mengikuti kegiatan Genovator 2025.
Para siswa Sekolah Olahraga Pembangunan Jaya Raya (SOPJR) saat mengikuti kegiatan Genovator 2025. (Foto - SOPJR)

TANGERANG SELATAN, VISTANEWS.ID – Sebanyak 60 siswa dari Sekolah Olahraga Pembangunan Jaya Raya (SOPJR) mengikuti rangkaian kegiatan Genovator 2025 di Aula SOPJR, CBD Sawah Baru Blok B7 / P-03 A, Sawah Baru, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (12/6/2025).

Genovator 2025 adalah sebuah acara edukatif dan kreatif yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta peran generasi muda sebagai agent of change terhadap isu-isu lingkungan.

Dra. Marini Dian N, M.Pd selaku Kepala Sekolah Olahraga Pembangunan Jaya Raya mengungkapkan harapannya dari acara Genovator ini.

“Melalui acara Genovator ini, kalian tidak hanya belajar, tetapi juga menerapkan langsung nilai-nilai yang mendukung Sustainable Eco Development. Hal-hal sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik, tidak membuang-buang makanan, dan memilah sampah sebelum dibuang bisa kalian mulai dari lingkungan sekolah,” ujarnya.

Acara Genovator 2025 dibuka dengan sesi Gensight, menghadirkan Amanda Prita Kirana, CEO dan Founder dari brand Dit Reveille, yang membawakan seminar interaktif mengenai pengolahan sampah botol plastik menjadi furnitur ramah lingkungan. 

28 Bidang Ilmu di UGM Masuk QS WUR by Subject 2026, Tiga Raih Top 100 Dunia

Para siswa Sekolah Olahraga Pembangunan Jaya Raya (SOPJR) saat mengikuti kegiatan Genovator 2025.
Para siswa Sekolah Olahraga Pembangunan Jaya Raya (SOPJR) saat mengikuti kegiatan Genovator 2025. (Foto – SOPJR)

Melalui pemaparannya, Amanda Prita menunjukkan bahwa sampah dapat memiliki nilai lebih ketika dikelola dengan cara kreatif dan berkelanjutan.

Selanjutnya, dalam sesi Genexperience, para siswa diajak untuk merasakan pengalaman langsung dalam praktik pengolahan sampah organik dengan menjadi pakan maggot. 

Aktivitas ini memperkenalkan hewan maggot sebagai solusi efektif untuk mengurangi limbah makanan sekaligus memberikan pemahaman tentang lingkaran ekosistem.

Antusiasme peserta semakin memuncak dalam sesi Genaction. Pada sesi ini, peserta tidak hanya memahami konsep pengolahan sampah, tapi juga dapat menyebarkan informasi edukatif kepada masyarakat luas terkait isu lingkungan.

Acara ini tidak hanya berfokus edukatif, namun juga hiburan dengan menghadirkan sesi Generfun yang menguji kekompakan dan kreativitas para siswa. Sorak sorai dan tawa pecah di sepanjang kegiatan ini, menjadi penguat semangat kolaborasi.

Kemkomdigi Meluncurkan Fitur Bimbingan dan Konsultasi Adiksi Gim DARA

Para siswa Sekolah Olahraga Pembangunan Jaya Raya (SOPJR) saat mengikuti kegiatan Genovator 2025
Para siswa Sekolah Olahraga Pembangunan Jaya Raya (SOPJR) saat mengikuti kegiatan Genovator 2025. (Foto – SOPJR)

Acara ditutup dengan sesi Genawards, sebuah bentuk apresiasi kepada para peserta yang menunjukkan partisipasi aktif, semangat tinggi, dan kreativitas luar biasa selama acara berlangsung. 

Selain itu, sebagai dorongan agar terus peduli terhadap isu lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Yogi Prassetio selaku Event Manager Genovator, menjelaskan bahwa tujuan dari acara ini adalah membawa hal baru dalam acara tahunan bertema Sustainable Eco Development.

 “Tujuan dari kami sebagai panitia Genovator sudah pasti ingin membawa hal baru dalam acara bertema SED yang dilaksanakan setiap tahunnya, agar para siswa-siswi merasakan pengalaman baru dengan menghadirkan narasumber yang melakukan pengelolaan sampah serta experience maggot secara langsung,” jelasnya. 

Di tengah padatnya jadwal latihan para peserta sebagai atlet, Genovator 2025 berjalan lancar dan penuh antusias. Dengan konsep acara yang interaktif dan partisipatif, para siswa tidak hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga pengalaman konkret dalam mengelola isu lingkungan secara berkelanjutan. (Red/***)

Krisis Layanan Kesehatan Bukan Sekadar Soal Dana, Tapi Soal Kepemimpinan

Bagikan Artikel