JAKARTA, VISTA.CO.ID – Ahli stem cell dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr. Purwati, dr., Sp.PD, KPTI, FINASIM punya kejutan untuk Indonesia. Dia sedang menyiapkan vaksin yang mampu mengalahkan kanker.
Tentunya, vaksin ini sangat dibutuhkan oleh Indonesia. Terlebih, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan data Globocan pada 2022, terdapat 408.661 kasus kanker dan total kematian 242.099.
Artinya, tingkat kematian penderita kanker di Indonesia mencapai 59,24 persen. Prevalensi kanker di Indonesia pada 2023 berdasarkan data Kemenkes tersebut, berada di angka 1,2 per 1000 penduduk pada 2013, menjadi 1,8 per 1000 penduduk pada 2018.
“Kita juga sedang mengembangkan vaksin kanker dengan tahap uji pada binatang. Semoga tahun depan vaksin ini bisa dicoba pada manusia, seperti kita ketahui vaksin ini sangat dibutuhkan karena angka penyakit ini kan sangat tinggi tidak hanya di Indonesia tapi di dunia. Kita harapkan apa yang kita lakukan bisa membawa manfaat,” kata dr. Purwati usai mendapat penghargaan Woman Empower Woman Award di Hotel Bidakara Jakarta.
Vaksin ini berhasil diciptakannya usai mengembangkan stem cell. Stem cell merupakan sel yang memiliki kemampuan untuk memperbanyak diri dan berdiferensiasi. Kemampuan tersebut memungkinkan untuk regenerasi jaringan atau organ yang rusak.
Selain itu, stem cell juga mengeluarkan berbagai jenis protein dan sitokin yang mampu membangkitkan stem cell lain yang masih tidak aktif.
Dengan demikian, stem cell menjadi potensi besar untuk proses pemulihan dan pengobatan berbagai penyakit, terutama penyakit degeneratif.
Pemerintah sendiri telah mengupayakan berbagai bentuk regulasi dalam mendampingi pelayanan dan penelitian stem cell.
Regulasi yang saat ini aktif adalah Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 32 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Sel Punca dan/atau Sel.
Dr. Purwati mengatakan, seiring dengan berkembangnya waktu Stem Cell menjadi isu yang sensitif tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia internasional.

“Stem Cell dan turunannya termasuk gen terapi itu jadi isu sensitif sehingga perkembangannya sangat pesat,” katanya.
“Jadi kita mesti memberi edukasi kepada masyarakat bagaimana stem cell yang sebenarnya, manfaatnya apa, penyakit apa saja yang bisa menggunakan stem cell, kalau untuk estetika itu bagaimana dan apa yang perlu diwaspadai sehingga hal tersebut memberikan manfaat yang lebih banyak bagi masyarakat,” sambungnya.
Saat ini dr. Purwati juga sudah mengembangkan stem cell ke arah turunannya, seperti eksosom yaitu molekul nano yang membuat sel tidak gampang mati, akan cepat masuk ke membran-membran.
Menurut dr. Purwati, selain berperan untuk meregenerasi sel, Stem Cell di Indonesia biasa digunakan untuk wellness, seperti anti aging yang bisa mulai digunakan di usia 20an.
Untuk menggunakan stem cell, dr Purwati menyarankan masyarakat untuk mencari ahli atau rumah sakit yang sudah berpengalaman karena regulasi penggunaan stem cell sendiri sudah diakui pemerintah dan diatur dalam peraturan Kementerian Kesehatan.
“Cari laboratorium yang sudah mendapat izin Kementerian Kesehatan dan BPOM, ada rumah sakit atau klinik yang sudah ditetapkan, yang menjalankan stem cell juga kan banyak mulai dari dokter ortopedi, dokter penyakit dalam,” terangnya.
Sementara itu, dr Purwati juga bersyukur atas penghargaan yang diterimanya. Ia berharap penggunaan stem cell terus memberikan manfaat bagi orang banyak.
“Alhamdulillah penghargaan ini kan diberikan kepada kaum perempuan di Indonesia ya atas kiprahnya untuk kebermanfaat, dengan adanya acara ini akan memberikan dorongan untuk semakin menambah semangat dalam berkarya,” pungkasnya. (Red/Ign)

