Oleh: Herman Wijaya
Di depan Gereja GPIB Immanuel, Jl. Pemuda Depok, ada sebuah Gedung tua yang bernama Eben Haezer. Di sofi-sofinya terdapat tulisan dalam bahasa Belanda, “Tot Hiertoe Heeft de Heer ons Geholpe” (Sampai di sini Tuhan masih menolong kita).
Ketika saya masih SMP, gedung itu pernah dijadikan ruang kelas. Dan sekarang pun digunakan oleh SMA Kasih milik Yayasan Cornelis Chastelein, Depok.
Immanuel Ebenezer merupakan gabungan dari dua kata sakral dalam bahasa Ibrani, yang kemudian diadopsi oleh penganut Kristiani.
Imanuel, atau dalam bahasa Inggris Emmanuel, dalam Alkitab berarti “Allah (Tuhan) beserta kita”. Nama ini memiliki akar dari bahasa Ibrani, “Immanu” yang berarti “bersama kita” dan “El” yang berarti “Tuhan” atau “Elohim”. Nama ini disebutkan dalam Kitab Yesaya dan kemudian dikaitkan dengan Yesus Kristus dalam Injil Matius.
Jadi, nama Imanuel dalam Alkitab bukan hanya sekadar nama, tetapi juga sebuah pernyataan tentang kasih dan kehadiran Allah yang selalu menyertai umat-Nya.
Ebenezer (atau Eben-Ezer) berarti “batu pertolongan”. Istilah ini berasal dari bahasa Ibrani, “even” yang berarti batu dan “ezer” yang berarti pertolongan atau bantuan. Ebenezer adalah nama yang diberikan untuk sebuah batu yang didirikan oleh nabi Samuel sebagai peringatan atas pertolongan Allah dalam peperangan melawan orang Filistin.

Batu itu menjadi pengingat bahwa Tuhan selalu menolong umatnya.
Bagi masyarakat kebanyakan di Indonesia saat ini, kata Immanuel dan Ebenezer mengingatkan akan nama Wakil Menteri Tenaga Kerja, Immanuel Ebenezer (Noel).
Kini Noel, pemilik nama sakral itu tengah tersandung kasus yang memprihatinkan: dia ditangkap KPK bersama beberapa orang lainnya, terkait dugaan pemerasan pengurusan sertifikasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terhadap sejumlah perusahaan.
Terlepas dari namanya yang memiliki arti sakral, selama ini Noel dikenal sebagai aktivis / pejabat yang terkesan idealis, walau ada juga yang menyebutnya oportunis. Lihatlah video ketika melihat ia mencoba menyelesaikan kasus Sritex dan kasus penahanan ijazah karyawan oleh seorang pengusaha travel di Pekanbaru. Galak sekaligus penuh empati, walau kasus yang ditangani boncos juga.
Apakah nasib Noel akan seperti namanya? Tuhan akan menyertai dan menolongnya. Atau jangan-jangan dia akan menerima nasib yang pedih, karena dia telah “Menyebut nama Tuhan dengan sia-sia”. Dia menggunakan 2 nama sakral, tetapi perbuatannya sangat merendahkan Tuhan.
Tak boleh menyebut nama Tuhan dengan sia-sia adalah salah satu larangan “Sepuluh Perintah Allah” yang tertulis dalam loh batu di zaman Nabi Musa. Kisah itu pernah diangkat dalam film “The Ten Commandement” (1956), yang dibintangi oleh Charlton Heston. (Red/***)

