JAKARTA, VISTA.CO.ID – Program Mudik Pulang Basamo kembali menjadi solusi praktis bagi para perantau, khususnya asal Minangkabau, untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman saat Idulfitri.
Tradisi ini telah lama dilakukan, baik oleh pemerintah maupun komunitas perantau Minang di Jabodetabek.
Beragam bentuk dukungan diberikan, mulai dari layanan mudik gratis hingga subsidi biaya untuk mengatasi tingginya ongkos transportasi Lebaran.
Pada Rabu, 18 Maret 2026, sebanyak 70 perantau asal Limau Lunggo, Kecamatan Lembang Jaya, Solok, Sumatera Barat, difasilitasi dalam program Pulang Basamo 2026.

FKBL Fasilitasi Perjalanan dengan Sistem Subsidi
Program bertajuk “Limau Lunggo Manyaru Pulang” ini merupakan inisiatif Forum Keluarga Besar Limau Lunggo (FKBL) dalam memberikan kemudahan dan rasa aman bagi perantau.
“Alhamdulillah perjalanan mudik kita berjalan lancar, selamat sampai tujuan, dan dapat berkumpul dengan keluarga tercinta di kampung halaman,” ujar Mulyadi, Ketua FKBL Jabodetabek.
Meski tidak sepenuhnya gratis, program ini mendapat sambutan tinggi. Peserta hanya dikenakan biaya Rp500 ribu per tiket, sementara sisanya disubsidi dari donatur komunitas.
“Awalnya kami menyediakan 1 bus dengan kapasitas 32 seat. Namun hanya dalam beberapa hari, bus segera terisi, sementara permintaan terus bertambah. Makanya kami tambahkan 1 bus lagi. Untuk anggota dikenakan harga 500 ribu per tiket. Kemudian sisanya berupa subsidi dari para donatur,” ujar Mulyadi.

Jabodetabek (ketiga dari kiri)
bersama jajaran pengurus (Foto – FKBL)
Perjalanan Lancar, Pemudik Tiba dengan Selamat
Perjalanan dimulai dari Pondok Kopi, Jakarta Timur, menuju Pelabuhan Merak dan dilanjutkan penyeberangan ke Bakauheni.
Perjalanan Lancar, Pemudik Tiba dengan Selamat
Perjalanan dimulai dari Pondok Kopi, Jakarta Timur, menuju Pelabuhan Merak dan dilanjutkan penyeberangan ke Bakauheni.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan darat melintasi Pulau Sumatera hingga Solok.
Mulyadi mengungkapkan rasa syukur karena perjalanan berlangsung tanpa hambatan berarti.
Disambut Hangat di Kampung Halaman
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 jam, para perantau tiba di kampung halaman dan disambut penuh haru oleh masyarakat setempat.
Kedatangan mereka bahkan diiringi kendaraan pengantar menuju Balai Nagari Limau Lunggo, mencerminkan kebanggaan masyarakat terhadap para perantau.
Momentum Bersejarah bagi FKBL
Ketua FKBL Indonesia, Thamrin, mengapresiasi terlaksananya program ini setelah sempat tertunda sejak 2019.
“Tahun 2019 sudah direncanakan, namun ternyata ada bencana Covid-19. Pelaksanaan pulang basamo tahun menjadi tonggak sejarah bagi kita karena untuk pertama kali terlaksana,” ujar Thamrin.
Mulyadi menambahkan, program ini menjadi bukti komitmen FKBL dalam memberikan manfaat nyata bagi anggota.
“Kami ingin memberikan lebih banyak lagi manfaat kepada anggota. Salah satunya dengan program Pulang Basamo. Semoga kegiatan ini dapat rutin digelar. Kalau tidak bisa 3 tahun sekali, minimal 5 tahun sekali,” papar Mulyadi.
Halal Bihalal Jadi Puncak Kegiatan
Selain mudik bersama, rangkaian kegiatan akan ditutup dengan acara halal bihalal yang melibatkan masyarakat setempat.
Acara puncak dari pulang basamo tentunya halal bihalal. Dimana kaum perantau dapat bersilaturahmi dengan masyarakat sekitar. Ada ceramah agama, pemilihan ketua FKBL baru, kegiatan sosial goro, kesenian anak Nagari, dan lainnya.
“Selamat merayakan kebersamaan dengan keluarga di rumah dimana kita dilahirkan,” pungkas Mulyadi. (*/Ign)

